Navigate Up
Sign In

Jalur Darat Putus, Harga Barang di Mulia Melambung, Provinsi Diharap Turun Tangan

Published on 3/26/2012

Tampak antrian mobilmobil dobel gardan yang melayani rute Wamena Mulia (PP) tengah menunggu muatan di Pasar Mulia, namun pemandangan seperti ini sudah sebulan lebih tidak terlihat di Mulia karena putusnya jalur darat Wamena - Mulia
 
 
MULIA Akibat terputusnya beberapa titik di ruas jalan Wamena Kabupaten Jayawjaya Mulia Kabupaten Puncak Jaya dalam sebulan terakhir ini, mengakibatkan melonjaknya sejumlah kebutuhan pokok masyarakat. Sebagai gambaran harga beras Cap 99 seberat 25 Kg di banderol Rp  875.000 / sak, itupun stoknya bisa dikatakan tidak ada di pasaran, saat ini yang lebih banyak beredar adalah beras bulog, untuk satu karung seberat 20 Kg saja di banderol Rp 600.000, untuk telur per rak dihargai Rp 95.000, mahalnya sembako di Mulia di sebabkan semua barangbarang kebutuhan masyarakat saat ini hanya bisa di drop dengan menggunakan pesawat terbang saja, karena jalur darat sudah lumpuh total dalam sebulan terakhir.
 
 “Jalan yang putus saat ini ada beberapa titik, yang terparah di kawasan Tingginambut, dikarenakan masalah keamanan sehingga ada sedikit hambatan dalam proses perbaikannya, namun kita sudah perintahkan alat berat untuk bergeser ke lokasilokasi yang rusak tersebut, jadi sudah ada penanganan, hanya kendala keamanan sehingga lambat penanganannya”, kata Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, SIP, MH Kamis (1/3) di MuliaJalur Wamena Mulia merupakan satusatunya titik sentral urat nadi perekonomian masyarakat Puncak Jaya, apabila jalur ini terputus bisa dipastikan harga barangbarang akan melonjak, karena tidak ada lagi mobilmobil yang mendrop segala kebutuhan masyarakat lewat jalur darat. Karena dengan jalur udara selain keterbatasan muatan juga harga yang melambung sangat tinggi.
 
“Tapi kalau untuk berqas miskin (raskin) kami ada subsidi sehingga bisa dikatakan kami bagibagikan kepada masyarakat secara gratis”, kata Enembe menepis kekhawatiran ketiadaan bahan pangan bagi masyarakat, karena menurutnya masyarakat juga sudah memiliki ketahanan pangan lokal dengan mengkonsumsi hasil kebun mereka berupa betatas dan umbiumbian lainnya. Secara terpisah Kadinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Puncak Jaya Yuni Wonda, S.Sos, S.IP, MM kepada Bintang Papua menegaskan bahwa jalur tersebut merupakan jalan provinsi sebenarnya karena menghubungkan antara Kabupaten Jayawijaya dengan Kabupaten Puncak Jaya, bahkan melewati beberapa kabupaten lainnya, namun menurutnya hingga dua tahun terakhir ini, ruas jalan tersebut tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi.
 
“Sudah dua tahun anggaran ini kami usulkan agar ada dukungan untuk ruas jalan penting itu, namun tidak pernah di jawab, untung ada suntikan dana dari APBN ditambah dana dari APBD kita sendiri sehingga kami bisa melakukan perawatan dan peningkatan kualitas jalan tersebut, namun karena memang medannya yang berat menyusuri lereng gunung disamping gangguan keamanan sehingga jalur tersebut selalu mengalami hambatan”, jelas Kadinas PU Puncak Jaya. Pihaknya sangat berharap, ruas jalan tersebut bisa di tangani juga oleh Provinsi, karena jalur tersebut menjadi urat nadi perekonomian Kota Mulia dan beberapa kabupaten lainnya seperti Tolikara. (amr/don)
 
 
 
http://bintangpapua.com
 02 Maret 2012
OPK