Navigate Up
Sign In

KRI Dewaruci, Duta Pariwisata Indonesia...

KRI Dewaruci.png
KRI Dewaruci tiba di dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (11/10/2012), setelah berkeliling dunia selama 277 hari- KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN
 
JAKARTA - KRI Dewaruci kini berusia 60 tahun. Banyak jasa dari kapal yang terbilang tua itu dalam melahirkan ribuan pelaut-pelaut tangguh TNI AL melalui Akademi Angkatan Laut guna mengawaki beragam kapal perang yang dimilikinya. Tak heran apabila julukan "Ibu" disematkan pada kapal tiang tinggi milik TNI AL ini.
 
KRI Dewaruci memiliki 16 layar beragam ukuran. Dengan lebar 9,50 meter, kapal tersebut memiliki panjang 58,30 meter dengan bobot 874 ton. Selain itu, kapal dengan tipe Tall Ships Barquentine itu memiliki kecepatan mesin 10,5 knot dan kecepatan layar 9 knot.
 
Kehadiran KRI Dewaruci ketika melakukan pelayaran keliling dunia mendapatkan banyak apresiasi dari pengunjung yang tertarik. Kapal dengan segudang prestasi itu telah menjadi legenda dan membawa harum nama Bangsa Indonesia. Tak heran ketika Kompas.com menyambangi kapal, tampak sejumlah piagam dan cinderamata diberikan dari negara-negara yang pernah disinggahinya.
 
Menengok bagian dalam kapal, juga banyak cinderamata dan plakat ditempelkan pada dinding. Sebuah ruangan yang tak begitu besar tempat penerima tamu tampak menampilkan suasana mewah berkesan klasik, lengkap dengan pernak-perniknya. Sementara itu, di ruang kemudi kapal, atau yang disebut ruang nahkoda, terdapat dua kemudi kapal dan sejumlah alat navigasi, seperti GPS dan radar.
 
Meski begitu, para kadet Akademi Angkatan Laut yang belajar di kapal tersebut juga harus bisa melakukan pelayaran dengan navigasi astronomi selain menggunakan GPS atau radar. Pasalnya, hal itu merupakan pengetahuan dasar bagi calon pelaut.
 
Bercerita soal pengalaman, berbagai tantangan di lautan sudah menjadi hal biasa yang dilalui kapal latih KRI Dewaruci, mulai dari gelombang ganas, sampai yang adem ayem pun telah dilalui. "Pengalaman yang paling menegangkan waktu closing Pasifik, waktu itu kan lautan tidak pernah teduh, selalu gelombang besar. Waktu itu di Samudra Pasifik, gelombang paling besar rata-rata 12 meter sampai 14 (meter), baik dari arah lambung maupun dari halauan," kata Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto kepada wartawan, Kamis (11/10/2012).
 
Namun, hal itu, menurut Haris, dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pelaut yang tengah dilatih. Berkat kedisiplinan awak dan kru kapal, gelombang besar tak membuat mereka surut mengarungi samudra. "Tantangannya, ya alam itu kan enggak boleh kita tantang, tidak bisa diprediksi. Kita ikuti saja sambil kita menyesuaikan. Kita belajar bagaimana cara menghindari badai, cara memanfaatkan ombak, di situ kita ambil semua," ujar Haris.
 
Di lautan pun, sambungnya, makanan yang tersedia sedikit berbeda dengan yang biasa disajikan pada umumnya di darat. "Kita hanya andalkan makanan kering, buah-buahan, tapi karena kita tugas kita harus siap," ungkapnya.
 
KRI Dewaruci senantiasa disambut meriah acap kali menyambangi setiap kota di mancanegara dalam perjalanan keliling dunianya. "Kalau di negara penerima, kesan kita, mereka selalu menerima kita dengan baik. Pemandu (asing) juga sering berebut mau menjadi pemandu di kapal ini," kata Haris.
 
Kini di usianya yang telah tua, meski akan digantikan dengan yang baru, KRI Dewaruci tetap menjadi simbol dan legenda untuk 'Ibu Pertiwi' atas prestasi dan jasanya menjalani berbagai misi, termasuk menjadi Duta Pariwisata Indonesia.
 
 
travel.kompas.com
11/10/2012
NEL