Navigate Up
Sign In

Asal Mula Pohon Sagu

"Cerita Rakyat Asmat"

SAGU sangat penting bagi orang Asmat, menurut adat setempat Pohon sagu memiliki cerita sejarah asal-usul. Dari Ke-12 rumpun di Asmat masing-masing memiliki cerita Mitos asal-usul sagu secara berbeda. Namun inti mitos 12 rumpun tersebut sama. Yaitu Penemu pohon sagu di Asmat adalah Beweripits.

Berikut ini merupakan salah satu cerita rakyat diambil dari rumpun Bismam Asmat. Seperti yang dikisahkan oleh sejumlah penulis cerita rakyat orang asmat, pada zaman dahulu di kali Pets hiduplah seorang Biwiripits (pria tampan dan gagah perkasa). Dan istrinya bernama Teweraut (wanita cantik, molek dan lemah gemulai). Biwiripits dan Teweraut hidup bersama saudara-saudaranya dan mereka tidak mengenal sagu, sebelumnya. Mereka hanya makan ikan, pucuk nipah, buah nipah, siput dan kepiting (keraka) yang menjadi makanan pokok seharian mereka.

Suatu hari Biwiripits bermimpi menemui sejenis pohon palma yang berduri di tengah hutan. Dalam mimpinya, Dia bersama istrinya menebang pohon palma itu. Lalu menokok serta mengolah sari tepungnya dan memakan tepung itu dan hasilnya lezat. Setelah terbangun dari tidurnya, dia teringat dan termenung merenungkan isi mimpinya.

Keesokan harinya, Biwiripits pergi (sendirian) ke hutan mencari pohon impiannya. Setiap kali ia pulang seusai mencari pohon tersebut, ia selalu merahasiakan kepada istri dan saudara-saudarinya. Satu hari, Teweraut mendekatinya untuk menanyakan maksud kepergiannya. Namun ia sama sekali tidak mau menceritakan hal tersebut kepada siapapun, sampai suatu hari Ia berhasil menemukan pohon impiannya. Keadaan itu berlangsung terus menerus sehingga istrinya merasa jengkel. Kejengkelan mereka karena kuatir suaminya bisa mendapat musibah. Lagipula Biwiripits tidak mau istrinya mengikutinya. Maka Biwiripits bertujuan untuk mengelabuhi istrinya dengan cara (Biwiripits) pindah ke adat Jew. Di rumah Jew Ia bertingkah dan berbuat seakan-akan tidak pernah keluar dari Jew.

Suatu hari, Biwiripits ke hutan lagi. Di tengah hutan ia menginjak duri sagu sehingga kakinya terasa sakit. Setelah pulang ke rumah, ia mengambil Taf (duri ikan kakap). Biwiripits yakin bahwa duri yang menusuk kakinya adalah duri pohon impiannya. Kemudian duri (Taf) tersebut di bawah ke hutan dan ditanam kembali ke lumpur. Keesokan paginya Biwiripits pergi menengok ke tempat duri diletakkan, ternyata di tempat itu telah ditumbuhi sebatang pohon palma berduri sesuai impiannya ketika berpimpi. Akhirnya Biwiripits melompat kegirangan.

Biwiripits lekas pulang ke rumah dan memberitahu kepada istri dan saudara-saudaranya untuk menyiapkan peralatan sesuai dalam mimpinya. Setelah semuanya sudah siap, berangkatlah mereka ke tempat pohon sagu yang tumbuh. Biwiripits menebang pohon tersebut. Setelah pohon itu tumbang, duri-durinya yang melakat pada pohon tersebut dibersihkan, dikupas kulitnya dan ditokok serta sari tepungnya diramas sesuai petunjuk mimpi). Hasilnya diisi dalam noken yang dibawah oleh Biwiripits dan keluarganya. Karena noken Biwiripits terlalu penuh dan berat, sehingga ketika pulang Biwiripits tergelincir pada pada titian kayu setapak di tengah jalan. Akhirnya Biwiripits tertanam dalam lumpur sebatas leher, istri dan saudara-saudaranya berusaha mengangkatnya. Namun usaha keluarganya sia-sia belaka. Maka Biwiripits berpesan kepada mereka: “biarlah kamu pulang dahulu ke rumah”. Mendengar pesan tersebut, mereka semua berpulang ke rumah sambil meratapi nasib Biwiripits.

Keesokan harinya mereka ke hutan lagi untuk mengetahui keadaan Biwiripits, setibanya di sana mereka tidak melihat Biwiripits. Mereka hanya melihat pohon-pohon sagu disekitar dimana tempat Biwiripits tertanam. Biwiripits berubah menjadi pohon sagu.
Sejak itulah, orang Asmat mengenal dan memakan sagu (Ambas, Amos atau amsa) sebagai makanan pokok bagi orang asmat. [Willem Bobi/Tabloid Jubi]