Sign In

Cagar Alam Pegunungan Cyclops

budaya suku banner.jpg

Pegunungan Cycloops ditunjuk sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 56/Kpts/Um/1/1978 tanggal 26 Januari 1978 dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 365/Kpts-II/1987 tanggal 18 Nopember 1987 dengan luas 22.500 Ha.
 
Secara Geografis Cagar Alam Pegunungan Cycloops terletak pada 145°30’ BT dan 2°31’ LS.  Cagar Alam Pegunungan Cycloops terletak memanjang dan membentang dari teluk merah ke arah timur. Gunung Rafeni merupakan puncak tertinggi dalam kawasan ini, ketinggiannya mencapai 1.880 meter dpl.
Secara adminitratif Cagar Alam Pegunungan Cycloops terletak pada :
Distrik : Jayapura Selatan, Jayapura Utara, Sentani dan  Depapre
Kabupaten : Jayapura dan Kota Jayapura
Provinsi : Papua
Batas-batas dari Cagar Alam Pegunungan Cycloops adalah :
Sebelah Utara :  Laut Fasifik     
Sebelah Selatan : Kota Jayapura dan kabupaten Jayapura
Sebelah Timur : Kota Jayapura
Sebelah Barat : Distrik Depapre
 
Potensi Flora dan Fauna
Kawasan ini terdiri dari 5 tipe ekositem utama yaitu Hutan Hujan dataran rendah (Lowland Rainforest), Hutan  Pegunungan (Mountain Forest), Hutan Sekunder (Secondary forest), Padang Rumput (Grassland). Seluruh ekosistem merupakan ekosistem alami.
Potensi  Flora dalam kawasan ini adalah Pometia sp, Instia bijuga, Anisoptera sp, Dilennia sp, Dracontomelon sp, Firmiana sp, Callophylum sp, Myritica sp, Araucaria cuninghammi, Castanopsis sp, Querqus spp, Sapotaceae (Burcella magusun),  Callophylum carii,  Ficus spp   dan   Syzybium spp   dan   beberapa  jenis Anggrek seperti Anggrek Hitam (Dendrobium lasianthera), Anggrek besi (D. violaceoflavens), Anggrek Jamrud Hitam (D. macrophyllum var. gigantheum), Anggrek Jamrud Kuning (D. macrophyllum A. rich), Anggrek Kuning (D. connotum), Anggrek Dasi (Bulbophyllum sp), Anggrek Nenas (D. smilliae), Anggrek Kelinci (D. antenatum), Anggrek Kantung (Paphiopedillum violascens).
Potensi fauna yang ada antara lain Kakatua Raja (Pobosciger atterimus), Paradisea minor, Palanger sp, Lorius domicella, Cacatua galerita triton, Dendrolagus sp, Goura victoria, Ornitophera sp, Electus rotatus, Casuarius sp  serta beberapa jenis Kelelawar.  Salah satu jenis hewan karnivora berkantong yang ditemukan di kawasan ini adalah Dasyrys albopunctatus 
 
Sosial Budaya
Penduduk asli yang bermukim di sekitar Kawasan C.A. Cycloops dalam berbagai segi kehidupan masih diatur dengan berbagai pola tradisi dan pantangan (tabu) yang sudah dianut sejak lama. Aturan ini  didasarkan pada pengalaman ”trial and error” dalam lingkungannya yang diwariskan ke generasiberikutnya. Banyak diantara tradisi itu bersifat konservatif yang bertujuan agar lingkungan dapat memberikan hasil secara abadi. Kadang-kadang tradisi itu diwariskan melalui cerita dan dongeng, namun tanggung jawab kekuasaan serta kestabilan dan kesinambungan tradisi terletak pada bahu kepala suku dan ondoafi/ondofolo.
Kawasan Pegunungan Cycloops didiami oleh 5 (Lima) suku  yang dibedakan oleh bahasa yang digunakan, yaitu : Suku-suku yang mendiami sekitar Teluk Humbolt dan Yotefa, Suku Ormu di Timur dan Utara kawasan, Suku Tepra/Tabla yang mendiami bagian Barat kawasan di sepanjang Pantai Utara, Suku Sentani yang tinggal di sebelah Selatan kawasan dan Suku Moi yang tinggal di bagian Selatan dari Sabron, Dosai, Waibron dan Maribu (Suku ini merupakan Migrasi dari Genyem). Kawasan ini dikenal oleh suku Tepra dengan nama Deponsero dan Suku Sentani dengan sebutan Dafonsoro. 
 
Aksesibilitas
Cagar Alam Pegunungan Cycloops dapat dicapai melalui jalur darat, jalur udara dan jalur laut. Dari Bandara Sentani hanya memerlukan waktu ± 15 menit untuk mencapai pintu masuk kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloops di Kemiri dengan menggunakan angkutan umum.  Jika menggunakan jalur laut, maka dari pelabuhan laut Jayapura, hanya diperlukan waktu ± 10 menit untuk mencapai jalur masuk kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloops di Bhayangkara dan ± 15 menit untuk mencapai jalur masuk di Angkasa dan ± 25 menit untuk mencapai jalur masuk di Pasir dua dengan menggunakan angkutan umum.  
 
Kegiatan Pengelolaan
Penelitian : 
- Survey potensi kawasan oleh Rat Chlif pada tahun 1987
- Survey Potensi Flora oleh Tim Universitas of Tokyo pada tahun 1992Survey potensi flora oleh LIPI pada tahun 1995
- Survey potensi burung yang dilindungi oleh Sub Balai KSDA Irian Jaya II Tahun Anggaran 1998/1999
- Survey  potensi  Anggrek pada tahun 2003
- Identifikasi  jasa  lingkungan dan sumber daya air, 2005
 
Pengamanan : Patroli  rutin  oleh  Polisi  Kehutanan  berupa  Operasi  Gabungan  dan Operasi Pengamanan Hutan
Tata Batas : Kegiatan  tata batas telah temu gelang, kegiatan tata batas dilakukan sejak tahun 1978 sampai denngan tahun 1984/1985. Kegiatan orientasi batas dilakukan pada tahun 1991 sepanjang 52 Km dan rekontruksi batas sepanjang 103,47 Km pada tahun 1993/1994.
 
Sumber : BKSDA Provinsi Papua