Suku
Asmat adalah salah satu suku di Papua yang terkenal di dunia karena apa
yang pernah dipraktekkan di masa lalu sebagai suku yang suka memenggal
kepala musuh dan juga karena keunikan ide mereka dan keindahan desain
yang mereka miliki dalam ukiran kayu.
Meski
memiliki kesamaan di bidang seni ukir, tetapi mereka juga memiliki
perbedaan pola dan model ukiran. Demikian pun dalam hal adat istiadat,
ada pula perbedaannya. Dalam pesta adat misalnya, antara mereka yang
berada di dekat pantai akan berbeda dengan mereka yang berada di
pedalaman hutan. Kayu yang digunakan untuk membuat karya ukir juga
memiliki perbedaan. Mereka yang berada di dekat pantai akan menggunakan
kayu dari hutan mangrove.









Ukiran dari Asmat itu tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga
sudah masyhur di mancanegara.
Namun sayang, hingga kini belum ada satu pun motif ukiran Asmat yang
dipatenkan. Kepala Museum Asmat, Erick Sarkol, sudah mengumpulkan semua motif
ukiran Asmat dan mendaftarkan patennya, tetapi belum berhasil.
Hal itu disampaikannya, saat
pagelaran Pesta Budaya Asmat 2008 di Agats, ibu kota Kabutapen Asmat. Ia
berharap agar pemerintah dan para seniman lain ikut membantu para seniman
daerah Asmat dalam mematenkan ukirannya tersebut. Dengan begitu, Indonesia tak
akan lagi kehilangan karya seninya karena ditiru oleh negara lain.
Saat ini memang belum ada seniman dari negara lain yang mengaku memiliki hak
cipta ukiran Asmat. Menurut Erick, ukiran Asmat itu tidak mudah ditiru, karena
sangat khas dan berbeda dengan ukiran daerah lain.
Untuk diketahui,
bahan baku yang dipakai untuk membuat ukiran Asmat berasal dari batang sagu
atau pohon perahu. Alur pahatannya pun memiliki keunikan tersendiri.
Makna dan
fungsi dari ukiran orang Asmat antara lain :
- Melambangkan kehadiran roh-roh nenek moyang
- Untuk menyatakan rasa sedih dan bahagia
- Sebagai suatu lambang kepercayaan yaitu dengan
motif manusia,hewan, tumbuhan &
benda-
benda lain.
- Sebagai lambang keindahan
- Sebagai gambaran ingatan
kepada nenek moyang