Navigate Up
Sign In

Ketika Pelajar Asmat Memandang Jew

Ketika pelajar asmat memandang jew.png
Jew rumah tradisional Masyarakat Asmat yang perlu dilestarikan dan perlu diketahui suku lain di Indonesia (Foto/Jubi : Williem Boby)
 
ASMAT - Jew atau rumah bujang bagi Orang Asmat merupakan tempat yang sangat sakral. Pelajar Asmat mencoba mencari letak keistimewaannya. Bagi Orang Asmat, Jew bukanlah rumah bujang seperti yang dipopulerkan oleh banyak orang di jaman sekarang. Jew bagi Tetua Adat Asmat tetaplah sebuah rumah tradisional yang perlu untuk dipertahankan. Mempertahankan kesakralan Jew itulah, puluhan Pelajar Asmat dari SMA YPPK Yan Smit Agats baru-baru ini mengunjunginya. Tujuan kunjungan ini adalah untuk memberi Pendidikan Budaya pada siswa agar kelak dapat terus menjadikan Jew sebagai tiang penyangga budaya di wilayah Asmat.
 
Kunjungan Keluarga Besar SMA Yan Smit itu tidak sekedar piknik. Pimpinan Sekolah, Suster Martina Mamus, OSU mengatakan bahwa 39 Pelajar yang melakukan praktek lapangan dibagi ke dalam empat kelompok. Sebanyak 40 pertanyaan diajukan di dalam ruang adat Jew Ewerakap, Rumpun Bismam, Agats. Untuk ke Jew Ewerakap, lama perjalanan yang dibutuhkan kurang lebih 30 menit dengan menggunakan long boat, sebuah perahu panjang yang dilengkapi mesin pendorong.
 
JUBI menyempatkan diri untuk mengikuti Wisata Budaya itu. Sesampainya di Dermaga Kali Peak, Kampung Ewer, rombongan Siswa SMA Yan Smit dijemput oleh para tokoh adat setempat. Letak Dermaga, Bandara Ewer dan Rumah Jew saling berdekatan. Di Jew Ewerakap, nampak para tua adat tengah disibukkan dengan tugas mereka masing-masing. Ada yang sementara membereskan administrasi pencairan dana tahap ke 2 Program PNPM Respek Mandiri Tahun 2009 lalu tetapi ada juga yang hanya bersenda gurau. Ketua Forum Adat Rumpun (FAR) Bismam, Yakobus Kopatsj bersama sejumlah warga lainnya sibuk menganyam atap Rumah Jew dari Daun Sagu.
 
Tua Adat Yiwici dan Kopatsj mengatakan bahwa kekentalan nilai dan kebiasaan adat budaya Orang Asmat dalam Jew sebenarnya sudah mulai luntur. Sebabnya adalah Orang Asmat sudah tidak lagi mampu membendung masuknya budaya dari luar. “Di jaman sekarang, anak-anak sudah tidak tahu lagi aturan adat di dalam Rumah Jew. Padahal Jew adalah pusat pembelajaran adat bagi Orang Asmat,” kata Yiwici. Untuk membangun sebuah Jew, kata Yiwici, harus memenuhi beberapa persyaratan. Jew selalu didirikan menghadap sungai. Panjangnya bisa mencapai puluhan meter. Tiang penyangga utamanya terbuat dari kayu besi yang dihubungkan dengan menggunakan tali rotan. Sedangkan dinding dan atapnya terbuat dari anyaman daun sagu. Suku Asmat sama sekali tidak menggunakan paku, melainkan bahan-bahan dari hutan. Ini menunjukkan bahwa Asmat masih mempertahankan nilai-nilai leluhur. Jumlah pintu sama dibuat sama dengan jumlah Patung Bis dan Tungku Api. Jumlah ini merupakan cermin dari rumpun suku yang tinggal di sekitar Jew.
 
Sedangkan Patung Bis adalah gambaran leluhur masing-masing rumpun suku. Mereka percaya patung-patung ini akan menjaga rumah mereka dari pengaruh jahat. Setelah Rumah Jew berdiri, para lelaki biasanya pergi berburu menggunakan Perahu Chi untuk memenggal kepala musuh. Suku Asmat juga memiliki keunikan dalam mendayung Perahu Chi yang bentuknya menyerupai lesung yang terbuat dari Kayu Pohon Ketapang Rawa. Panjang sebuah Chi bisa mencapai dua belas meter. Untuk membuatnya diperlukan waktu satu hingga dua minggu. Dayungnya terbuat dari Kayu Pala Hutan dan bentuknya menyerupai tombak panjang. Sebagian Perahu Chi diberi ukiran ular di tepinya serta ukiran khas Asmat di bagian kepalanya. Ular merupakan simbol hubungan antara Suku Asmat dengan Alam. Perahu menjadi alat yang penting bagi mereka untuk mencari ikan sepanjang hari, mengambil sagu, berburu buaya, berdagang bahkan untuk berperang. Dengan perahu ini, mereka bisa melintasi sungai hingga berpuluh-puluh kilometer.
 
Kedekatan Suku Asmat dengan perahu kini menjadi atraksi menarik. Atraksi ini menggambarkan bagaimana Suku Asmat berperang. Saat kembali, tetua adat akan menyambut mereka, menanyakan jumlah musuh yang berhasil dibunuh. Namun semenjak misionaris datang sekitar tahun lima puluhan, perang antar suku sudah tidak ada. Pesta pengukuhan Rumah Jew biasanya dilakukan sepanjang malam. Mereka menari dan bernyanyi diiringi pukulan Tifa. Saat-saat seperti ini, mereka percaya bahwa roh leluhur akan datang dan mulai menjaga rumah mereka.
 
Rumah Jew memang memiliki posisi yang istimewa dalam struktur Suku Asmat. Di rumah bujang ini dibicarakan segala urusan yang menyangkut kehidupan warga, mulai dari perencanaan perang, hingga keputusan menyangkut kampung mereka. Jew adalah salah satu bagian dari nilai-nilai Suku Asmat yang melihat rumah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Suku Asmat selain itu pandai membuat ukiran dan memahat yang sarat simbol leluhur mereka.
 
“Sayangnya, Jew belum banyak diketahui oleh suku lain di Indonesia, Orang Jawa sering menyebutnya dengan istilah Candi,” kata Nico Ndepi, bekas anggota legislatif asal Kampung Ewer Distrik Agats. Orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menurut keyakinan Orang Asmat, dewa nenek moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh Orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan. Dalam mitologi Orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo, nenek moyang Orang Asmat yang datang ke bumi itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungai ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya tetapi ia sendiri terluka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi Sungai Asewetsy, Kampung Syuru se­ka­rang. Untung ada seekor Burung Flaminggo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali kemudian ia membangun Rumah Jew dan mengukir dua patung yang sangat indah serta membuat sebuah genderang yang sangat kuat bunyinya.
 
Dalam Smith 1970 Schneebaum 1985, hal yang sangat menarik dalam mite ini adalah persamaan gagasan tentang penciptaan dunia dalam mitologi yang menceriterakan cara Dewa Syiwa menciptakan dunia dan manusia dengan mempengaruhi seluruh alam untuk bergerak dan hidup. Mite tersebut tergambar dalam Patung Hindu klasik yang terkenal yang dinamakan Syiwanataraja. Mite itu juga melambangkan proses daur ulang hidup dan mati.
 
Zegwaard 1953 menyebutkan, konsep tradisional Orang Asmat tentang hidup didasarkan pada keyakinan akan adanya suatu daerah di seberang ufuk. Karena itu apabila nenek moyang menghendaki kelanjutan keturunan, mereka mengirimkan suatu roh tertentu ke bumi melalui seberkas sinar matahari yang mendarat di atas atap rumah tempat tinggal perempuan yang telah ditakdirkan menjadi ibu asal roh tadi. Perempuan itu akan hamil dan kemudian melahirkan bayi. Walaupun Orang Asmat tahu bahwa hubungan seks berkaitan dengan kelahiran bayi, fungsinya hanya untuk memberi bentuk sebagai manusia kepada roh yang masuk ke dalam kandungan ibu itu.
 
Suku Asmat terpisah menjadi tujuh distrik dengan jumlah populasi sekitar 80 ribu jiwa. Setiap distrik dipisahkan oleh rawa dan sungai. Mereka biasa berkumpul dalam sebuah rumah besar sebelum acara penyambutan. Bentuk fisik arsitektur Suku Asmat digolongkan dalam dua tipe, yaitu Jew dan Tsjewi (rumah tempat tinggal keluarga batih). Jew memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan Masyarakat Asmat. “Untuk mempertahankan Jew ini, generasi muda harus tahu betul seluk beluknya. Jangan hanya berdiam diri mempelajari budaya dari luar saja,” kata Niko Ndepi. Ndepi memandang, kelangsungan hidup Orang Asmat tak akan bertahan jika Jew dihancurkan. Sebagai anak titisan dewa, katanya Pemuda Asmat harus kembali memandang Jew sebagai rumah istimewa dan tidak lagi digunakan sebagai tempat tidur saja. “Kita berharap agar ada perubahan dalam Jew karena Jew adalah Manusia Asmat, Jew adalah generasi kita,” tutupnya.
 
 
24/04/2010
opk